Travel

Yerusalem: Kota Satu Tuhan, Tiga Agama dan Sejuta Pertikaian

Yerusalem: “Kota Satu Tuhan, Tiga Agama dan Sejuta Pertikaian” – Sejak awal histori Islam, Palestina, serta kota Yerusalem terutama, sudah jadi tempat suci untuk umat Islam. Demikian sebaliknya untuk Yahudi serta Nasrani, umat Islam sudah jadikan kesucian Palestina sebagai satu peluang untuk membawa kedamaian pada daerah ini.

‘Isa (Yesus), satu diantara nabi yang diutus pada umat Yahudi, menandai titik balik utama yang lain dalam histori Yahudi. Beberapa orang Yahudi menampiknya, serta lalu diusir dari Palestina dan alami banyak ketidakberuntungan. Pengikutnya lalu di kenal sebagai umat Nasrani. Walau demikian, agama yang dimaksud Nasrani atau Kristen sekarang ini didirikan oleh orang lain, yang dimaksud Paulus (Saul dari Tarsus). Ia memberikan panorama pribadinya mengenai Isa kedalam ajaran yang asli serta merumuskan satu ajaran baru dimana Isa tak dikatakan sebagai seseorang nabi serta Al-Masih, seperti semestinya, tetapi dengan satu ciri ketuhanan. Sesudah dua 1/2 era ditentang diantara beberapa orang Nasrani, ajaran Paulus jadikan doktrin Trinitas (Tiga Tuhan). Ini yaitu satu penyimpangan dari ajaran Isa serta pengikut-pengikut awalannya. Sesudah ini, Allah turunkan Al-Qur’an pada Nabi Muhammad SAW hingga beliau dapat mengajarkan Islam, agama Ibrahim, Musa, serta Isa, pada semua umat manusia.

Yerusalem: Kota Satu Tuhan, Tiga Agama dan Sejuta Pertikaian
Yerusalem: Kota Satu Tuhan, Tiga Agama dan Sejuta Pertikaian

Maha Suci Allah, yang sudah memperjalankan hamba-Nya disuatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang sudah Kami berkahi seputarnya supaya Kami tunjukkan padanya beberapa dari sinyal tanda (kebesaran) Kami. Sebenarnya Dia yaitu Maha Mendengar lagi Maha Tahu. (Qur’an, 17 : 1)

Oleh karenanya, tidaklah mengherankan dalam 2000 th. paling akhir, umat Islam sudah jadi hanya satu kemampuan yang membawa kedamaian pada Yerusalem serta Palestina.

Khalifah Umar Membawa Perdamaian serta Keadilan untuk Palestina

Sesudah Roma mengusir Yahudi dari Palestina, Yerusalem serta sekitarnya jadi lenyap. Walau demikian, Yerusalem kembali jadi fokus perhatian sesudah Pemerintah Romawi Constantine memeluk agama Nasrani (312). Beberapa orang Roma Kristen bangun gereja-gereja di Yerusalem, serta membuatnya sebagai satu kota Nasrani. Palestina tetaplah jadi daerah Romawi (Bizantium) sampai era ketujuh, saat negeri ini jadi sisi Kerajaan Persia sepanjang masa yang singkat. Pada akhirnya, Bizantium kembali menguasainya.

Th. 637 jadi titik balik utama dalam histori Palestina, lantaran sesudah saat ini daerah ini ada dibawah kendali golongan Muslimin. Momen ini menghadirkan perdamaian serta ketertiban untuk Palestina, yang sepanjang beratus-ratus tahun sudah jadi tempat perang, pengasingan, penyerangan, serta pembantaian. Apa lagi, setiap saat daerah ini bertukar penguasa, kerapkali melihat kekejaman baru. Dibawah pemerintahan Muslim, penduduknya, tanpa ada lihat kepercayaan mereka, hidup berbarengan dalam damai serta ketertiban.

Palestina dikalahkan oleh Umar Bin Khattab, khalifah ke-2. Saat masuk Yerusalem, toleransi, kebijaksanaan, serta kebaikan yang ditunjukkannya pada masyarakat daerah ini, tanpa ada membeda-bedakan agama mereka menandai awal dari satu jaman baru yang indah. Seseorang pengamat agama terpenting dari Inggris Karen Armstrong melukiskan penaklukan Yerusalem oleh Umar dalam soal ini, dalam bukunya Holy War :

Yerusalem: Kota Satu Tuhan, Tiga Agama dan Sejuta Pertikaian - Palestina Aqsa
Yerusalem: Kota Satu Tuhan, Tiga Agama dan Sejuta Pertikaian – Palestina Aqsa

Khalifah Umar masuk Yerusalem dengan mengendarai seekor unta putih, dikawal oleh pemuka kota itu, Uskup Yunani Sofronius. Sang Khalifah minta supaya ia dibawa selekasnya ke Haram asy-Syarif, serta disana ia berlutut berdoa ditempat rekannya Muhammad lakukan perjalanan malamnya. Sang uskup memandangnya dengan ketakutan : ini, ia fikir, pastinya bakal jadi penaklukan penuh kengerian yang pernah diramalkan oleh Nabi Daniel bakal masuk tempat tinggal ibadat itu ; Ia pastinya sang Anti Kristus yang bakal menandai Hari Kiamat. Lalu Umar minta lihat beberapa tempat suci Nasrani, serta saat ia ada di Gereja Holy Sepulchre, saat sholat umat Islam juga tiba. Dengan sopan sang uskup menyilakannya sholat ditempat ia ada, namun Umar dengan sopan juga menampik. Bila ia berdoa dalam gereja, tuturnya, umat Islam bakal kembali kenang peristiwa ini dengan membangun satu mesjid disana, serta ini bermakna mereka bakal memusnahkan Holy Sepulchre. Malah Umar pergi sholat ditempat yang sedikit jauh dari gereja itu, serta cukup pas (perkiraannya), ditempat yang segera bertemu dengan Holy Sepulchre masihlah ada satu mesjid kecil yang dipersembahkan untuk Khalifah Umar.

Mesjid besar Umar yang lain didirikan di Haram asy-Syarif untuk menandai penaklukan oleh umat Islam, berbarengan dengan mesjid al-Aqsa yang kembali kenang perjalanan malam Muhammad. Sepanjang bertahun-tahun umat Nasrani memakai tempat reruntuhan biara Yahudi ini sebagai tempat pembuangan sampah kota. Sang khalifah menolong umat Islam bersihkan sampah ini dengan tangannya sendiri serta disana umat Islam bangun tempat sucinya sendiri untuk bangun Islam di kota suci ketiga untuk dunia Islam.

Pendeknya, umat Islam membawa peradaban untuk Yerusalem serta semua Palestina. Bukanlah memegang kepercayaan yg tidak tunjukkan hormat pada nilai-nilai suci orang lain serta membunuh beberapa orang cuma lantaran mereka ikuti kepercayaan tidak sama, budaya Islam yang adil, toleransi, serta lemah lembut membawa kedamaian serta ketertiban pada orang-orang Muslim, Nasrani, serta Yahudi di daerah itu. Umat Islam tak pernah pilih untuk memaksakan agama, walau sebagian orang non-Muslim yang lihat kalau Islam yaitu agama sejati geser agama dengan bebas menurut hasratnya sendiri. Perdamaian serta ketertiban ini selalu berlanjut selama beberapa orang Islam memerintah di daerah ini. Walau demikian, diakhir era kesebelas, kemampuan penakluk lain dari Eropa masuk daerah ini serta merampas tanah beradab Yerusalem dengan aksi tidak berperikemanusiaan serta kekejaman yang belum pernah tampak terlebih dulu. Beberapa penyerang ini yaitu Tentara Perang Salib.

Riset mengenai Palestina sepanjang masa Ottoman paling akhir membuka satu perkembangan dalam kesejahteraan, perdagangan, serta industri di semua lokasi ini.

Allah tak melarang anda untuk berbuat baik serta berlaku adil pada beberapa orang yang tidak ada memerangimu lantaran agama serta tak (juga) mengusir anda dari negerimu. Sebenarnya Allah suka pada beberapa orang yang berlaku adil. (Qur’an, 60 : 8)

Serta bila ada dua kelompok dari mereka yang beriman itu berperang sebaiknya anda damaikan pada keduanya! Namun bila yang satu tidak mematuhi kesepakatan pada yang lain, sebaiknya yang tidak mematuhi kesepakatan itu anda perangi hingga surut kembali ke perintah Allah. Bila dia sudah surut, damaikanlah pada keduanya menurut keadilan, serta sebaiknya anda berlaku adil ; sebenarnya Allah menyukai beberapa orang yang berlaku adil. (Qur’an, 49 : 9)

Ada satu ungkapan yang dipakai dalam politik kalau “kekuasaan itu menyimpang, serta kekuasaan mutlak itu mutlak menyimpang. ” Ini bermakna kalau tiap-tiap orang yang terima kekuasaan politik kadang-kadang jadi menyimpang dengan cara akhlak lantaran peluang yang ia dapatkan. Ini betul-betul berlangsung pada beberapa besar manusia, lantaran mereka membuat kehidupan akhlak mereka menurut desakan sosial. Dengan kata lain, mereka hindari perbuatan tidak berakhlak lantaran mereka takut pada ketidaksetujuan atau hukuman orang-orang. Tetapi pihak berwenang berikan mereka kekuasaan, serta turunkan desakan sosial atas mereka. Mengakibatkan, mereka jadi menyimpang atau terasa tambah lebih gampang untuk berkompromi dengan kehidupan akhlak mereka sendiri. Bila mereka mempunyai kekuasaan mutlak (hingga jadi beberapa diktator), mereka mungkin saja berusaha untuk memuaskan hasrat mereka sendiri lewat cara apapun.

Dinasti Ottoman membawa perdamaian, kestabilan, serta peradaban ke semua tanah yang mereka taklukkan. Kita masihlah dapat temukan air mancur, jembatan, penginapan, serta mesjid dari saat Ottoman di semua Palestina.

>> TOUR AQSA yuk . . . Ziarah di Bumi Para NABI <<

Hanya satu contoh manusiawi yg tidak disentuh oleh hukum penyimpangan itu yaitu orang yang dengan ikhlas yakin pada Allah, memeluk agamanya lantaran rasa takut serta cinta kepada-Nya serta hidup menurut agama itu. Karenanya, akhlak mereka tak ditetapkan oleh orang-orang, serta bahkan juga bentuk kekuasaan mutlak juga tak dapat memengaruhi mereka. Allah menyebutkan ini dalam satu ayat :

(yakni) beberapa orang yang bila Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi pasti mereka membangun sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf serta terhindar dari perbuatan yang mungkar ; serta pada Allah-lah kembali semua masalah. (Qur’an, 22 : 41)

Dalam Al-Qur’an, Allah jadikan Daud AS, sebagai contoh mengenai penguasa yang ideal, yang menjelaskan bagaimana ia mengadili dengan keadilan beberapa orang yang datang untuk memohon keputusannya serta bagaimana ia berdoa dengan dedikasi sepenuhnya pada Allah. (Al-Qur’an, 38 : 24)

Dinasti Ottoman membawa perdamaian, ketertiban, serta toleransi kemana juga ia pergi

Tanah Palestina yaitu satu bukti pemerintahan Islam yang adil serta toleransi, serta berikan dampak pada banyak keyakinan serta ide. Seperti sudah dijelaskan terlebih dulu, pemerintahan Nabi Muhammad SAW, Umar, Salahuddin, serta sultan-sultan Ottoman yaitu pemerintahan yang bahkan juga beberapa orang non-Muslim juga setuju dengannya. Saat pemerintahan yang adil ini berlanjut sampai era ke-2 puluh, dengan selesainya pemerintahan Muslim pada th. 1917, daerah itu jatuh kedalam kekacauan, teror, pertumpahan darah, serta perang.

Yerusalem, pusat tiga agama, alami saat kestabilan terpanjang dalam sejarahnya dibawah Ottoman, saat kedamaian, kekayaan, serta kesejahteraan berkuasa disana serta di semua kesultanan. Umat Nasrani, Yahudi, serta Muslim, dengan beragam golongannya, melaksanakan ibadah menurut yang mereka gemari, dihormati apa yang diyakininya, serta ikuti rutinitas serta kebiasaan mereka sendiri. Ini bisa saja lantaran Ottoman memerintah dengan kepercayaan kalau membawa kedisiplinan, keadilan, kedamaian, kesejahteraan, serta toleransi pada daerah mereka yaitu satu keharusan suci.

Satu minoritas Yahudi dapat bertahan lewat cara minoritas yang lain didunia Arab bertahan… ini cukup berperan baik dibawah Kesultanan Ottoman, dengan system millet-nya. Satu system yang nampaknya tambah lebih manusiawi dibanding system yang kita punyai saat ini.

Memanglah, Palestina tak pernah melihat pemerintahan “manusiawi” lain demikian pemerintahan Ottoman selesai. Pada dua perang dunia, Inggris menghancurkan beberapa orang Arab dengan kiat “memecah serta mengalahkannya” serta serentak menguatkan Zionis, yang lalu dapat dibuktikan menentang, bahkan juga pada mereka sendiri. Zionisme menyebabkan kemarahan beberapa orang Arab, serta dari th. 1930an, Palestina jadi tempat pertentangan pada ke-2 grup ini. Zionis membuat grup teroris untuk melawan orang-orag Palestina, serta selekasnya sesudahnya, mulai menyerang beberapa orang Inggris juga. Demikian Inggris berlepas tangan serta menyerahkan kekuasaannya atas daerah ini pada 1947, pertentangan inim yang beralih jadi perang serta pendudukan Israel dan pembantaian (yang selalu berlanjut sampai hari ini) mulai jadi tambah kronis.

Momen kekerasan di era paling akhir ini diawali saat Inggris memaksa Ottoman keluar dari lokasi ini hingga mengakibatkan beberapa orang Palestina menanggung derita penjajahan, pengusiran, serta pendudukan Israel.